Kamis, 20 November 2008

Opini dalam Opini

Pada pelajaran kali ini, kita akan melanjutkan materi tentang jenis-jenis tulisan. Jenis tulisan yang akan dibahas selanjutnya tentu bukan lagi tulisan untuk berita reportase. Tetapi jenis-jenis tulisan lain yang mengisi sebuah mading, buletin, atau Koran dan majalah. Untuk session pertama, kita akan mengupas tentang opini.

Pada pembahasan yang lalu, saya telah menyampaikan bahwa berita (apapun jenisnya) tidak mengandung pendapat pribadi, merupakan fakta yang harus dituliskan secara jelas, boleh dengan detail ataupun dalam bentuk headline. Maka pembahasan kali ini akan mengupas tentang rubrik-rubrik yang bisa menampung pendapat pribadi. Menuangkan ide-ide cemerlang, kritik, saran, protes, atau apapun yang bersifat personal atau lembaga.

Dalam sebuah surat kabar dikenal ada jenis tulisan berita, feature, tajuk, pojok, kolom, surat pembaca, iklan. Biasanya ada pula fiksi, karikatur, atau foto-foto. Berita dan feature adalah fakta, pojok dan tajuk adalah opini dari pengasuh koran, kolom dan surat pembaca adalah opini dari luar, iklan adalah sumber pemasukan untuk penerbitan, sedang fiksi adalah karangan yang fiktif, bisa sebagai cerita bersambung, cerpen, dan sebagainya.

Jadi opini adalah pendapat seseorang, baik atas nama pribadi maupun kelompok atau lembaga. Kolom dan surat pembaca termasuk dalam opini. Intinya, opini bukanlah berita. Berita yang dicampur dengan opini menjadi rancu, dan mengaburkan nilai berita itu sendiri. Berita pun menjadi tidak obyektif lagi.

Opini bisa merupakan pandangan seseorang tentang berita aktual, dan bukan berita itu sendiri. Opini biasanya menyoroti sebuah berita aktual dengan memberi pendapat-pendapat, baik saran, solusi, kritik dan sebagainya. Untuk membuat tulisan bentuk ‘opini’ mulailah dengan mencari topik, biasanya penulis membuat tulisan dari topik yang sedang hangat diperbincangkan. Misalnya tentang ‘Global Warming’. Seorang penulis bisa saja mengambil sudut pandang mana saja untuk menjadikan topic tersebut sebagai opini. Bisa mendeskripsikan tentang sebab-sebab atau dampak yang ditimbulkan. Bisa juga kritik kepada masyarakat global, atau saran konservasi, atau yang lain-lain lagi.

Tentu untuk menuliskan hal-hal tersebut, penulis butuh referensi, maka berita-berita di koran atau majalah dapat dijadikan referensi. Sumber lain yang dapat digunakan adalah jurnal-jurnal hasil penelitian para ahli, atau referensi-referensi pendukung lainnya.

Nah, disinilah kekayaan bacaan dibutuhkan. Jika saat menulis berita, kita hanya dituntut untuk pandai bertutur kata, agar berita yang kita tulis informatif, maka saat menulis opini kita dituntut untuk memiliki dasar-dasar berpikir yang jelas, untuk setiap tulisan yang kita tulis. Ingat, tulisan anda akan dibaca banyak orang, dan boleh jadi mempegaruhi pola berpikir mereka terhadap objek yang anda tuliskan. Maka membekali diri dengan referensi jauh lebih baik daripada menuliskan omong kosong yang menyesatkan.

Ok, ini dulu ya… selamat berlatih dan berlatih… sukses untuk anda,, Geits!!

Jogjakarta, 16 November 2008

Tidak ada komentar: