Tampilkan postingan dengan label kota_santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota_santri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Februari 2009

Nasib Manusia Telah Ditetapkan

Yah...nasib manusia memang telah ditentukan oleh Allah, bahkan lima ribu tahun sebelum ia diciptakan. Tak ada yang bisa disangkal, tak ada yang bisa didahulukan ataupun diakhirkan. Setiap takdir akan tetap berjalan sesuai aturan main yang ditetapkan oleh Allah ’Azza wa Jalla. Nasib manusia telah ditetapkan, tetapi siapakah di antara kita yang telah mengetahui apa yang akan terjadi esok? Itulah perlunya ikhtiar, karena tidak ada yang kita ketahui sebelumnya, apa yang akan terjadi.

Untuk meyakinkan kita, mari kita simak bunyi Hadits Arbain ke-4:

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu telah berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan dia selalu benar dan dibenarkan: "Sesungguhnya setiap orang di antaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi gumpalan seperti potongan daging selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya (menulis) 4 perkara: (1) ketentuan rezkinya, (2) ketentuan ajalnya, (3) amalnya, (4) ia celaka atau bahagia.

Maka demi Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain-Nya, sesungguhnya seseorang di antara kamu melakukan perbuatan ahli surga sehingga tidak ada di antara dia dan surga itu kecuali sehasta, maka mendahuluilah atas takdir Tuhan, lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka maka ia masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang di antara kamu melakukan perbuatan ahli neraka sampai tidak ada di antara dia dan neraka itu kecuali sehasta, maka mendahuluilah atasnya takdir Tuhan, lalu ia melakukan perbuatan ahli surga maka ia pun masuk surga" diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Jogjakarta, 15 Februari 2009

Kamis, 27 November 2008

Laa Taghdhab

Pembahasan kali ini adalah tentang hadits Arbain ke-16, marilah kita simak terjemahan dari matan hadits tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Berilah aku wasiat". Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda "Laa Taghdhab" (Janganlah marah) Lalu ia minta wasiat lagi sampai beberapa kali. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Laa Taghdhab" (Janganlah marah) Diriwayatkan oleh Imam Bukhari

Biografi Perawi Hadits

Metodologi kitab hadits dari Imam Nawawi yang berkaitan dengan perawi hadits (sahabat yang meriwayatkan hadits), yaitu nama lengkap perawi hadits hanya disebutkan pada hadits yang pertama dituliskan dalam kitab tersebut, dan pada hadits-hadits berikutnya disebut nama kuniahnya saja, atau nama yang masyhur dari sahabat tersebut.

Nama lengkap Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr Radhiyallahu 'Anhu

Keutamaan Hadits

Menurut Al Jardany hadits ini merupakan hadits yang sangat agung dan termasuk Jawami' Al Kalim (Perkataan Rasulullah yang singkat tapi padat) karena mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat, dan menyuruh untuk menjauhi sebab-sebab untuk marah dan untuk membebaskan seseorang dari sifat marah.

Marah merupakan kumpulan dari seluruh keburukan.

Penjelasan Hadits

1. Dibolehkannya untuk meminta wasiat kepada orang alim suatu hal yang baik. Karena saudara adalah cermin bagi diri kita. Bahkan banyak yang mengatakan sunnah, utamanya perkara kebaikan. Tidak diketahui secara pasti, siapa sahabat yang datang meminta nasehat tersebut. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama, ada yang mengatakan Abu Darda, tetapi ada yang mengatakan Jariyah bin Qudamah atau yang lain. Tetapi dari kalangan shahabat, banyak yang menshahihkan Abu Darda, karena Jariyah adalah seorang tabi'in. Wallahu a'lam

2. Pertanyaan yang diajukan tiga kali, menunjukkan tidak dilarang meminta tambahan nasehat

3. Tidak mengapa menekankan sesuatu yang harus diperbaiki oleh saudaranya

4. Marah itu kebiasaan yang setiap orang memilikinya

5. Sifat marah itu tidak tercela secara mutlak, bahkan terkadang dia terpuji atau pantas untuk dimunculkan karena Allah dan rasul-Nya juga mempunyai sifat marah.

Beberapa ayat Al Qur'an yang menjelaskan hal tersebut

Q.S. Al Fath (48) : 6

Dan supaya dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahannam. dan (neraka Jahannam) Itulah sejahat-jahat tempat kembali.

Q.S. Al Mumtahanah (60) : 13

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka Telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang Telah berada dalam kubur berputus asa.

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa kemarahan Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya untuk orang-orang tertentu.

Sifat marah Allah Subhanahu wa Ta'ala ada 2, yaitu:

1. Makar

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Q.S. Ali Imran : 54)

2. Istihza' (mengolok-olok)

Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)." Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"

Beberapa dalil yang menjelaskan kemarahan para nabi

Q.S. Al A'raaf (7) : 150

Dan tatkala Musa Telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: "Hai anak ibuku, Sesungguhnya kaum Ini Telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan Aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim"

Q.S. Al Anbiya (21) : 87

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."

6. Hukum asal dari marah adalah TERCELA

7. Beberapa obat untuk melawan marah

a. Dengan do'a, karena Allah yang menciptakan rasa marah

b. Banyak berdzikir, karena marah itu datangnya dari syaitan

c. Mengingat ayat-ayat atau hadits-hadits tentang kebaikan orang-orang yang dapat menahan marahnya

Barang siapa yang menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya akan dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di hadapan makhluk dihari kiamat nanti dan dipilihkan bidadari mana yang ia inginkan (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.

Q.S. Ali Imran (3) 133 – 134

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

d. Membaca taawudz, karena salah satu pintu syaitan mengganggu manusia adalah dengan marah

Q.S. Fushilat (41) : 36

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

e. Mengubah posisi, untuk mengurangi reaksi aliran darah

f. Berwudhu

g. Selalu memberikan hak pada tubuh

Faedah Hadits

1. Memberikan nasehat pada orang yang mencarinya atau memintanya dan salah satu hak muslim atas muslim lainnya adalah nasehat

2. Mengulang-ulang nasehat bermanfaat bagi yang diberi nasehat

3. Marah yang dicela adalah yang dikarenakan dunia, adapun jika marah disebabkan agama dan dalam rangka membela agamanya adalah marah yang terpuji.

Sabtu, 06 September 2008

Puasa, Ibadah Istimewa

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (Q.S. Al Baqarah (2) : 183)

Berikut adalah beberapa keistimewaan ibadah puasa

Penghalang dari api neraka

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Shiyam itu penghalang, yang akan menghalangi seorang hamba dari api neraka.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Dari Abu Sa’id Al Khudry Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa melaksanakan shiyam sehari maka Allah akan menjauhkannya dari api neraka sejauh 70 kharif (musim).” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Jalan menuju jannah

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya di jannah nanti ada sebuah pintu yang dinamakan Ar-Rayyan, orang-orang yang melaksanakan shiyam akan masuk jannah melalui pintu tersebut dan tak seorang pun yang memasukinya selain mereka.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Menjadi syafaat bagi pelakunya

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Shiyam dan Al Qur’an dapat memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Shiyam akan berkata “Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya sepanjang siang hari, maka berikanlah syafaatku kepadanya.” Al Qur’an berkata “aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka berikanlah syafaatku di kepalanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Hakim, Abu Nu’aim).

Penghalang dari berbagai syahwat

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Maka bagi siapa yang belum bisa hendaklah dia melaksanakan shiyam, karena akan lebih dapat mengendalikannya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Tebusan terhadap dosa-dosa

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan shiyam di bulan Ramadhan, karena penuh keimanan dan mengharapkan ridha Allah, maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Sebab tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “ada dua kegembiraan bagi seorang yang shiyam; kegembiraan saat dia berbuka dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabb-nya di akhirat.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, bau mulut orang yang melaksanakan shiyam lebih harum dari aroma misk

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang shiyam itu lebih disukai oleh Allah daripada aroma misk.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Semoga bermanfaat

Jogjakarta, 1 September 2008

Dia Pasti Menjemputmu

Setiap yang berjiwa pasti merasakan mati. Allah Azza wa Jalla telah mengabarkan hal tersebut melalui kalam-Nya, Q.S. Al Hijr (15) : 99 “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”

Maka kematian pasti akan menjemputmu, di mana pun kamu berada, dan setiap jiwa akan mendekati takdir kematiannya meski bersembunyi di balik benteng yang kokoh lagi menjulang tinggi.

Berikut adalah kisah seorang menteri di zaman Nabi Daud Alaihissalam, bernama Jalil Al Qadri. Ketika Nabi Daud meninggal ia menjadi menteri di zaman Nabi Sulaiman bin Daud.

Di suatu pagi, Sulaiman mengadakan majelis dengan sang menteri. Kemudian seorang laki-laki masuk memberi salam dan membisikkan sesuatu ke telinga Nabi Sulaiman. Lelaki ini memandang tajam kepada Jalil, sang menteri, sehingga ia ketakutan. Ketika lelaki itu keluar dari majelis, sang menteri bertanya kepada Sulaiman, “Wahai Nabi Allah, siapakah lelaki yang barusan keluar tadi? Sungguh pandangan matanya membuatku takut.” Nabi Sulaiman menjawab, “Ia adalah malaikat maut yang menjelma manusia. Ia mendatangiku.”

Seketika itu gemetarlah sang menteri dan menangis. Kepada Nabi Sulaiman ia berkata, “Wahai Nabi Allah, demi Allah aku memohon kepadamu agar kau perintahkan angin bertiup membawaku ke tempat yang paling jauh, ke India.”

Nabi Sulaiman memenuhinya. Sang menteri pun terbang ditiup angin.

Keesokan harinya malaikat maut datang kembali ke hadapan Nabi Sulaiman sebagaimana kemarin. Nabi Sulaiman berkata, “Kemarin kau telah membuat sahabatku gemetar. Mengapa kau memandangnya begitu tajam?”

Malaikat itu berkata, “Wahai Nabi Allah, aku mendatangimu di pagi hari. Aku terkejut mengetahui orang itu masih bersamamu di sini. Padahal Allah telah memerintahkanku untuk mencabut nyawanya selepas dhuhur di India.”

“Lalu apa yang kau lakukan?” tanya Sulaiman. “Aku pergi ke tempat yang Allah perintahkan kepadaku untuk mencabut nyawanya di sana. Ternyata kudapati ia telah menungguku, lalu aku cabut nyawanya,” jawab malaikat itu.

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Al Jumu’ah: 8).

Diadaptasi dari kitab Malam Pertama di Alam Kubur, BAB Parit Kematian, oleh Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Uraifi.

Rabu, 23 Juli 2008

Soko Guru Islam

Ikhwan Akhwat Rahimakumullah, pelajaran kita akan berlanjut pada hadits ke-3 dari kitab Arba’in An Nawawi. Hadits ini merupakan penjelasan tentang pondasi yang menyokong Islam. Berikut adalah terjemahan dari matan hadits tersebut;

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhuma telah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) mengeluarkan zakat, (4) mengerjakan haji ke Baitullah, dan (5) puasa pada bulan Ramadhan.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

  1. Biografi Perawi Hadits

Hadits ini merupakan hadits pertama yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dalam kitab hadits ini. Hal ini dicirikan dengan penulisan lengkap nama perawi pada hadits di atas.

Nama lengkap beliau adalah Abdur Rahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Al Quraisy Al Adawy. Lahir 10 tahun sebelum hijrah, lebih muda 11 tahun dari Abu Hurairah. Beliau banyak mengikuti peperangan bersama Rasulullah. Pada perang Uhud, beliau tidak diizinkan ikut serta oleh Rasulullah karena usianya yang masih sangat belia. Beliau merupakan tokoh kedua setelah Abu Hurairah dalam periwayatan hadits. Jumlah hadits yang beliau riwayatkan sebanyak 2630 hadits. Beliau wafat pada 73 H, saat banyak terjadi fitnah di tengah umat, di antaranya perang Jamal dan Shiffin, namun beliau lebih banyak menjauhi fitnah tersebut.

Beberapa keutamaan Abdullah bin Umar, beliau adalah seorang yang rajin beribadah sejak kecil, termasuk 7 shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, beliau juga sangat bersemangat dalam melaksanakan sunnah Rasulullah sampai pada perbuatan Rasulullah yang tidak diketahui maknanya.

  1. Pelajaran Hadits

  1. Hadits ini disebutkan kembali oleh Imam Nawawi Rahimahullah, sekalipun telah disebut pada hadits ke-2. Hadits ini menegaskan bahwa kelima hal tersebut merupakan soko guru bangunan Islam.

  2. Bahwa Islam adalah sebuah bangunan dan ke-5 rukunnya adalah tiang-tiangnya. Rukun I, persaksian kepada Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rukun II, menegakkan shalat dengan sebenar-benarnya. Rukun III, mengeluarkan zakat, untuk mensucikan harta. Rukun IV, mengerjakan haji ke Baitullah bagi yang mampu. Rukun V, berpuasa pada bulan Ramadhan. Jika kelima rukun Islam tersebut mampu dipenuhi, maka sempurnalah bangunan Islam pada diri seorang muslim.

Wallalu a’lam

Selasa, 24 Juni 2008

Rayuan Sang Penggoda

Pernahkah anda merasa punya musuh dalam hidup ini? Mungkin ada yang mengatakan 'pernah', ada juga yang menjawab 'tidak pernah'. Ya, ini tentu saja jika yang dimaksud musuh adalah sesama manusia. Tetapi mari kita tengok kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Q.S. Al A'raf (7): 22, "...Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua"

Ternyata semua manusia punya musuh, musuh itu adalah syaitan, sang penggoda sejati. Bersembunyi di balik segenap keinginan hati, sikap, dan sifat manusia. Senantiasa mengintai gerak-gerik, membisikkan keburukan ke dalam dada, dan mencari jalan untuk menggelincirkan manusia ke dalam dosa.

Menurut Ibnu Qayyim, syaitan memiliki langkah-langkah jitu untuk menjerumuskan manusia. Berikut adalah urutan setan dalam menggelincirkan manusia ke lembah kesesatan (Naudzubillahi min dzalik)

Pertama, sekuat tenaga berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kekafiran dan kemusyrikan. Puncaknya adalah ketika seseorang dalam keadaan sakaratul maut, maka syaitan tak henti-hentinya membuat keraguan dalam hati manusia di saat-saat terakhirnya itu.

Kedua, berusaha menjadikan manusia terjatuh ke dalam perkara-perkara bid'ah. Perkara yang diada-adakan dalam agama, yang dikerjakan manusia tanpa petunjuk dari Allah maupun Rasul-Nya. Perkara bid'ah adalah sesat dan kesesatan tempatnya di neraka.

Ketiga, berusaha menjatuhkan manusia ke dalam perkara dosa-dosa besar. Beberapa contoh dosa besar adalah syirik (mempertuhankan sesuatu selain Allah), durhaka kepada orang tua, berzina, dan membunuh jiwa yang diharamkan.

Keempat, berusaha menjatuhkan manusia ke dalam perkara dosa-dosa kecil. Dosa ini sering disepelekan manusia. Padahal dosa kecil jika dilakukan terus-menerus juga bisa menjadi besar. Seperti: berbohong, bergunjing, memandang atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Kelima, syaitan akan mendatangi manusia dari perkara-perkara yang mubah. Seperti: makan minum berlebihan atau tidur berlebihan.

Keenam, syaitan mengajak manusia mengerjakan amalan yang kurang afdhal (kurang penting) daripada yang afdhal (lebih penting). Seperti: seseorang yang lebih mendahulukan shalat sunnah daripada menjamu tamu. Sepintas lalu, mengerjakan shalat sunnah adalah perkara yang afdhal, tetapi jika dilakukan ketika kita kedatangan tamu, maka menjamu tamu tentunya lebih afdhal. Karena menjamu tamu hanya bisa dilakukan saat itu, sedangkan shalat sunnah bisa dilakukan dilain waktu. Misalnya, ketika tamu sudah pulang.

Demikianlah enam langkah-langkah syaitan dalam menjerumuskan manusia yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim. Syaitan akan mengawali menggoda manusia dari langkah pertama, jika tidak berhasil, maka akan dilanjutkan dengan langkah kedua, demikian seterusnya sampai langkah terakhir. Nah, pada langkah ke-5 inilah orang-orang beriman mulai tergoda oleh bujuk rayunya. Ini adalah peringatan. Bukan berarti bahwa ketika kita mengaku beriman, lantas langkah pertama sampai langkah keempat tidak akan dilancarkan syaitan kepada kita. Sama sekali tidak, sepanjang kita masih hidup, syaitan akan senantiasa merayu manusia, membawanya pada racun kesesatan yang tiada tara.

Secara umum, syaitan punya dua jalan utama dalam menjerat manusia, yaitu dari jalan syahwat dan syubhat. Dan secara fitrawi, manusia pun memiliki penangkal yang kuat, di mana syahwat (nafsu) dapat ditundukkan dengan kesabaran, dan syubhat (keragu-raguan) dapat dilumpuhkan dengan ilmu. Allah menjaminkan Al Qur'an sebagai penawar ramuan syaitan tersebut,

Allah berkalam dalam Q.S. Yunus (10): 57

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Maka jika kita ingin jauh dari godaan setan, biasakanlah berinteraksi dengan Al Qur'an.

Sebenarnya seperti apa setan menggoda orang-orang beriman? Sebagaimana kita ketahui, orang beriman adalah orang-orang yang senantiasa berusaha membersihkan hati dan perbuatannya dari campur tangan syaitan.

Berikut beberapa fenomena yang dilancarkan syaitan untuk menjerumuskan orang beriman adalah

Pertama, syaitan selalu berusaha menyusupkan persangkaan buruk terhadap sesama muslimin.

Sebagaimana kalam Allah dalam Q.S. An Najm (53) : 28

"Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran."

Dan Q.S. Al Hujuraat (49): 12

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Kedua, Membesarkan satu sisi dari syariat islam, dan mengorbankan sisi yang lain. Allah berkalam dalam Q.S. Al Baqarah (2) : 208

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."

Ketiga, At Tasywif (nanti...nanti...nanti...).

Rasulullah telah bersabda, bahwa At Tasywif adalah salah satu dari bala tentara syaitan. Berapa banyak orang yang berniat melakukan amal shalih, tetapi gagal hanya karena kata nanti, nanti, dan nanti

Demikianlah, semoga kita bisa senantiasa berhati-hati dengan racun berbisa yang ditiupkan syaitan ke dalam diri kita. Teriring seuntai doa, semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk semakin giat mencari penawarnya, yaitu ilmu.

Hadits Jibril

Hadits kedua dari kitab Arba'in An Nawawi adalah hadits yang juga diriwayatkan oleh Amirul Mu'minin 'Umar Radhiyallahu 'Anhu. Disebut hadits Jibril, karena menceritakan tentang kunjungan malaikat Jibril dalam majelis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Berikut adalah terjemahan hadits tersebut:

Dari 'Umar Radhiyallahu 'Anhu juga, telah berkata: Ketika kami duduk dekat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada suatu hari maka dengan tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih, berambut yang sangat hitam, tidak nampak padanya tanda-tanda perjalanan dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya, hingga ia duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, lalu merapatkan lututnya ke lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha (Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam), seraya bertanya: Wahai Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam! Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab: "Islam adalah keharusan bagi engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Muhammad itu utusan-Nya, engkau mendirikan shalat, engkau mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan haji ke Baitullah bila engkau mampu." Dia berkata: Engkau benar. Maka kami heran, dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.

Lalu dia bertanya lagi: Beritahukanlah padaku tentang Iman! Jawab Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan hendaklah engkau beriman kepada qadar yang baik dan buruk." Orang itu berkata: Engkau benar.

Dia bertanya lagi: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan! Jawab Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

Dia bertanya lagi: Beritahukanlah aku tentang (kapan) hari kiamat! Jawab Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Orang yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari penanya itu sendiri."

Dia bertanya lagi: Beritahukanlah aku tentang tanda-tandanya! Jawab Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "(di antaranya) jika seorang hamba (sahaya) telah melahirkan tuannya (majikannya), dan jika engkau melihat orang yang tak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin dan penggembala kambing saling berlomba untuk membangun gedung yang tinggi."

Kemudian orang tadi pergi, lalu saya diam dalam waktu yang lama. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai 'Umar, tahukah engkau siapa penanya tadi?" Jawabku: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian." Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Pelajaran Hadits

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik secara aqidah

  1. Ibnu Daqiq Al 'Idh berpendapat bahwa hadits ini merupakan induk hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, di mana hadits ini menjelaskan seluruh perkara agama
  2. Imam Ibnu Rajab Al Hambali berpendapat bahwa hadits ini mempunyai kedudukan yang sangat agung, karena merupakan agama secara keseluruhan dan tak seorang pun dari ulama Islam membahas masalahnya kecuali menjadikan hadits ini sebagai dalil
  3. Hadits ini mencakup tentang tingkatan agama Islam, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan
  4. Hadits ini telah mengabarkan kepada manusia beberapa tanda datangnya hari kiamat.

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik secara adab

  1. Mengikuti majelis ilmu bersama orang-orang shalih adalah suatu keutamaan
  2. Seorang yang menghadiri majelis ilmu hendaklah memperbaiki penampilannya (Jibril datang dengan pakaian putih dan berambut hitam)
  3. Perlunya kesungguhan dan semangat dalam menuntut ilmu seperti kesungguhan para shahabat
  4. Malaikat Jibril meyebut "Wahai Muhammad", dapat dikarenakan dua sebab. Pertama, Boleh jadi malaikat tidak dilarang menyebut panggilan tersebut sebagaimana larangan bagi manusia dalam Q.S. An Nuur (24) : 63 (Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih). Kedua, Jibril boleh jadi menampakkan dirinya sebagai orang awam.
  5. Penuntut ilmu boleh bertanya kepada gurunya (Jibril bertanya kepada Rasulullah, sedangkan Rasulullah adalah guru dalam majelis tersebut)
  6. Guru boleh bertanya kepada muridnya (Rasulullah bertanya kepada peserta majelis tentang tamunya)
  7. Tidak mendahului guru dalam berbicara (peserta majelis diam, sampai Rasulullah membuka pembicaraan)
  8. Ketika seorang yang berilmu ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka katakanlah 'saya tidak tahu'
  9. Hendaklah seorang yang mempunyai hajat di suatu tempat, segera pulang jika hajatnya telah selesai
  10. Mencari ilmu hendaklah pada orang yang menguasai ilmu tersebut.

Wallahu a'lam

Kamis, 22 Mei 2008

Hadits Arba'in An Nawawi

Ikhwan wa Akhwat fillah rahimakumullah,

Alhamdulillah, sebagai perwujudan syukur atas setitik ilmu dari luasnya samedera ilmu Allah, saya berkenan menuliskan kembali beberapa untai hadits yang dinukil dari kitab Al Arba'in… untuk berbagi dan saling mengingatkan,,, semoga berkenan dan bermanfaat hadirnya…

Merupakan kesepakatan kaum muslimin bahwa As Sunnah (Al Hadits adalah sumber syari'at Islam kedua setelah Al Qur'an. Karenanya mempelajari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merupakan kewajiban sebagaimana mempelajari Al Qur'an. Salah satu kitab hadits yang sederhana dan para ulama menganjurkan untuk mempelajarinya adalah kitab Al Arba'in yang disusun oleh Imam Nawawi rahimahullah

Marilah kita tilik secara singkat keutamaan Sang penulis kitab Arba'in

Beliau adalah Imam Nawawi rahimahullah, memiliki nama lengkap Zakaria bin Syarif, seorang Imam besar ahli hadits. Beliau sangat terkenal dalam kezuhudannya terhadap dunia, memiliki banyak kekayaan berupa kitab. Beliau tidak menikah sebagaimana Ibnu Taimiyah, karena tidak ada yang mampu menyamai isteri pertamanya, yaitu 'ilmu. Beliau meninggal pada usia 54 tahun.

Kitab-kitab syarah (penjelasan) Arba'in di antaranya adalah

1. Syarah Ibnu Daqiq Al 'Ied

2. Syarah Ath Tha'yin Fii Syarhi Arbain, oleh Imam At Thufiy Al Hambali. Syarah ini ditekankan pada konsep bahasa dan fiqh

3. Jami'ul 'Ulum Wal Hikam, oleh Ibnu Rajab Al Hambali. Syarah ini sering disebut kitab terbaik

4. Syarah Al Arba'in An Nawawi. Oleh Al Allamah Syaikh Muhammad Hayat As Sindiy. Syarah ini tergolong lengkap namun membutuhkan syarah lain sebagai penunjang.

5. Syarah Al Arba'in Al Imam An Nawawi.

6. Syaikh Ismail Al Anshory. Seorang ulama hadits dari Madinah, menerangkan kosakata, membuat kesimpulan, dan faidahnya.

7. At Ta'liqaat Arba'in An Nawawi. Oleh Syaikh Al Utsaimin, syarah ini sangat ringkas

8. Al Wafii Fi Syarah Arba'in An Nawawi. Oleh DR. Musthafa Bugho dan Masyuddin Mas'ud. Syarah ini merupakan buku terbaik, terlengkap, paling sistematik.

9. Qawaid Wal Fawaid. Oleh Nazhim Sulthon. Merupakan kitab yang paling baik untuk dipilih.

Terjemahan Hadits Arba'in I

Dari 'Amirul Mu'minin Abu Hafsh 'Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu telah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang hanya memperoleh (sesuai) apa yang ia niatkan. Maka siapa yang hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah apa yang ia tuju". (Diriwayatkan oleh dua Imam ahli hadits: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi dalam dua kitab shahih mereka yang merupakan kitab yang paling shohih di antara kitab-kitab hadits).

Penjelasan Hadits

A. Biografi Perawi Hadits

Metodologi kitab hadits dari Imam Nawawi yang berkaitan dengan perawi hadits (sahabat yang meriwayatkan hadits), yaitu nama lengkap perawi hadits hanya disebutkan pada hadits yang pertama dituliskan dalam kitab tersebut. Pada hadits-hadits berikutnya disebut nama kuniahnya saja, atau nama yang masyhur dari sahabat tersebut.

Hadits I ini diriwayatkan oleh 'Amirul Mu'minin Abu Hafsh 'Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu. Abu Hafsh berasal dari kata 'ayah dari singa' (bermakna seorang yang gagah dan kuat). Merupakan khalifah ke-2 setelah Abu Bakar As Siddiq, di tangannya umat islam mengalami zaman keemasan. Pada zaman jahiliyah, Umar merupakan pahlawan bagi kaum Quraisy. Beliau seorang yang berani sehingga ditakuti manusia, bahkan golongan jin dan syaithan. Umar senantiasa berkata benar, senantiasa mendapat ilham dari Allah, dan sangat kental sifat adilnya. Merupakan orang pertama yang menggunakan tahun hijriyah sebagai penanggalan bagi kaum muslimin. Beliau juga telah hijrah dan berjihad bersama Rasulullah. Beliau termasuk sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

B. Makna Hadits

Setiap amalan yang dilakukan oleh seorang hamba, haruslah dengan niat. Tidak ada amalan tanpa didahului oleh niat. Amal itu bisa menjadi baik, buruk, diterima, ditolak, diganjar atau tidak tergantung kepada niatnya. Maka besar kecilnya nilai suatu amalan, dikembalikan kepada niatnya.

Para ulama mengatakan, maksud 'niat' adalah

- amalan itu dipandang karena memiliki niat

- amalan itu lahir karena adanya niat

- baik buruknya amalan, bergantung kepada niat

Terdapat pengulangan pada kalimat " menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya" menunjukkan kemuliaan Allah dan Rasul-Nya

Tidak adanya pengulangan pada kalimat " hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya", menunjukkan kehinaan atas dunia.

Makna 'hijrah' secara bahasa adalah berpindah.

Makna 'hijrah' secara syar'i adalah berpindah dari negeri kafir ke negeri islam. Berpindah dari tempat yang penuh ketakutan ke tempat yang aman untuk melaksanakan syariat. Secara maknawi, dapat berarti meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah atasnya.

C. Pelajaran Hadits

  1. Wajibnya menetapkan niat dalam seluruh amalan, karena termasuk bagian dari iman, yang merupakan amalan hati.
  2. Niat dapat membedakan pahala suatu amalan.
  3. Amalan yang baik terwujud dengan niat yang shohih. Perlu diingat, bahwa niat yang baik, tidak bisa menjadikan perkara yang mungkar menjadi baik.
  4. Ikhlas karena Allah menjadi syarat diterimanya suatu amalan.
  5. Amalan harus sesuai dengan sunnah, karena ia juga termasuk syarat diterimanya amalan.
  6. Baiknya tujuan tidak bisa menghalalkan segala cara.
  7. Wajibnya berhati-hati dari riya' dan sum'ah yang dapat merusak niat, di sinilah pentingnya senantiasa memperbaharui niat.
  8. Kewajiban Allah dalam memberikan ganjaran pahala amal bagi hamba-hamba-Nya
Wallahu a'lam