Tampilkan postingan dengan label bengkel_sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bengkel_sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 April 2010

Kaset Usang

Ibarat jasad yang tlah terkubur, raga itu harusnya tak berbau lagi. Begitu pun dengan luka ini. Mereka mungkin sudah lupa, yah… mungkin hanya aku yang ingat betapa sakit semua ini kulewati.
Memang, hanya sebuah kaset usang, semua orang bahkan melupakannya, tak terkecuali diriku. Disaat-saat tertentu, aku bisa lupa dengan luka-luka itu. Lalu tersenyum bersama dengan mereka.
Sesaat, aku bersyukur, lukaku sudah mengering, tanda akan sembuh. Bahkan mungkin sudah sembuh. Semoga…
Namun terkadang aku merasa bingung dengan diriku, rasa sakit itu bisa muncul kapan saja, di mana saja, seperti penyakit yang tak dapat kukendalikan. Tiba-tiba saja kambuh, sakit… saat ku sadar air mataku tak dapat lagi ku bendung… rasanya tak ada lagi cinta, tak ada lagi kebahagiaan, tak ada lagi asa yang kuharapkan… hampa… salahku telah mengharap kesetiaan manusia…
Yang tak kupahami, mengapa kaset usang itu tak kunjung rusak? Mengapa rasa sakit itu tak kunjung pulih? Mengapa luka itu masih saja bernanah? Pilu hatiku bukan karena buruknya pekertimu, tapi justru ketulusanmu kepada mereka yang seolah menjadi ancamanku. Saat keluhuran itu makin menyatu dengan jiwamu, rasa sakit itu makin menghujam pilu, seolah rasa cemburuku tak mampu lagi bersembunyi dari rona wajahku…
Andai kau pernah tahu, berapa musim yang kulewati untuk menahan tahtamu di jiwaku… berapa jiwa yang kukorbankan untuk sekedar menahan posisimu. Tapi aku tak hendak menuntut balas untuk setiap detik penantianku, aku hanya ingin luka ini sembuh. Luka yang kau gores pelan di seluruh kisi hatiku.
Tolong… tolong bantu aku membuang semua memori kaset usang itu, pahamilah aku, meski aku tau kau tak akan pernah bisa mengerti mengapa semua itu begitu melukaiku.
Mungkin terlalu banyak yang aku tau. Masa lalumu yang harusnya tak aku tau, tapi entah mengapa kabar itu sampai juga ke telingaku, meski aku tak pernah berusaha mencari,1x pun aku tak hendak tau siapa mereka yang sudah mengambilmu dari hidupku.
Mungkin aku terlalu jahat, selalu saja mengungkit isi kaset usang itu, tapi apa dayaku, ketika setiap saat kau mencoba menghibur atau memberi kebahagiaan untukku, yang kuingat hanya mereka,, yah mereka yang lebih banyak merentang waktu bersama hari-harimu. Dibanding aku, aku yang sangat jauh dari jasadmu, bahkan tak pernah hapal sketsa kulit tubuhmu.
Aku memang tak butuh tau siapa mereka itu, yang aku ingin tau, mengapa mereka ada di antara dusta-dustamu atas statusku? Tega… tega memang kau perlakukan aku… saat aku berjuang mempertahankan dirimu dari arjuna-arjuna itu, saat yang sama justru kau campakkan aku dengan dusta-dustamu… Sakit Tuhan………… sakit………… sakit karena akhirnya aku tau, mereka tak sekedar teman, tak sekedar ada, tapi terlibat dalam janji, I’tikat, dan mungkin juga lebih dari itu… pastinya aku tau lebih dari itu… tidak ku sangka, pekertimu pada mereka justru menghancurkan jiwaku, hingga hari ini, hari ini saat aku tiba-tiba tersadar akan gelisah jiwaku…
Yah… ini memang hanya kaset usang, tak layak disesali karena semua takkan kembali, waktu tak bisa diputar, dan aku memang tidak pernah punya pilihan. Aku bukan pengkhianat, jadi tak layak ku khianati ikrarku karena pengkhianatanmu. Aku hanya akan pergi jika pasti dalam pandangku, bahwa kau pergi dengan salah satu dari mereka, seperti yang kulakukan waktu itu.
Tapi inilah takdir kita, takdir yang harus kita lewati, bahwa aku dan dirimu harus melewati ujian ini, sekedar pengikat bukti, bahwa kasih kita akan senantiasa ada, tak pernah pudar memang, tapi butuh perjuangan untuk mengikatkannya. Hanya aku tak yakin, bisa bertahan lebih lama, jika ada badai baru yang mengusiknya. Aku lelah, lelah selelah-lelahnya…

Jogjakarta, 090909
Percayalah… hanya aku yang paling mengerti, kegelisahan jiwamu kasih… dan arti rasa kecewamu, kasih yakinlah hanya aku yang paling memahami besar arti kejujuran ini, indah sanubarimu kasih.. percayalah…

Posting 20 April 2010, saat badai itu sungguh-sungguh menghancurkan semuanya…
Tulisan ini akan jadi salam perpisahanku untuk rumah ini…

Senin, 07 Desember 2009

Desemberku...

Coretan di 30 Desember 2007
Saya tidak pernah menyebut, lebih tepatnya tidak sepakat menyebut suatu periode angka tahun adalah kegelapan. Bagiku setiap manusia, bahagia dan sengsara tergantung pada sikapnya. Memandang setiap takdir sebagai rahmat, ujian, atau mungkin bencana.
Tahun ini, jika dibentang lembaran takdir yang telah kulewati, mungkin yang terlihat hanya gelap. Tapi nuraniku mengelak, betapa pun sakitnya pasti pernah bahagia, meski hanya beberapa saat saja. Neraca takdir bagiku memang selalu adil.
Jika dalam tulisan ini hanya ada mendung, maka sepertinya aku menulisnya dalam badai. Hati yang sedikit terluka dan jasad yang sedikit lelah.
Tahun ini adalah cadas. Berkali-kali aku diamuk badai, sekali-kali aku diantar ke tepian, warna duniaku begitu gelap. Sedikit saja yang aku inginkan, tenang… tapi rasa tenang itu tak jua bisa ku reguk… kendati telah kuretas gelombang asaku menjadi serpihan riak riak kecil… namun tetap saja ricuh…hati serasa penuh gelombang, alam boleh sunyi, tapi mengapa hatiku tak kunjung sunyi…sunyi dari perdebatan manakah yang benar? Mengapa harus begini?
Terkadang aku harus sadar, ini adalah takdirku…aku tidak hendak menuntut kepada Allah, karena rasaku tak pernah mengelak, rasa sakit ini hanya di beberapa sisi kehidupanku, bukan seluruhnya…

Gresik, 30 Desember 2007
Dunia ini adalah penjara bagi orang-orang mu’min… Bersabarlah…




Desember…
Palu sidang sudah diketuk
Takdir telah terbentang
Yang tersisa hanya senyum kepedihan
Layu membaca pesan penghabisan
Memilih untuk tidak memilih, harus jadi pilihan

Desember kedua menjelang…
Tanpa pernah memilih
Takdir melesat pasti
Mengantar pada kisi doa yang sempat tersisih

Jogjakarta, 5 Desember 2008, 16:54

Selasa, 12 Mei 2009

Kalimat Kepasrahan

Rabbi...
Sungguh agung karunia-Mu melingkupi hidupku
Tak terhitung oleh bilangan bintang
Melebihi luas samudera
Menawarkan semua pedih yang dibuat raga sendiri

Amal tak kan pernah cukup
Belum lagi diriku terlalu lalai
Entah maksiat mana lagi yang tak pernah kubuat
Tasbih dibalut dusta
Ikhlash berlapis keluh
Syukur beralas kufur
Sujud-sujudku hanya di hadapan-Mu
seolah setelah itu Kau tak lagi melihatku
sungguh, begitu hina untuk bersimbol muslim

Di atas keterbatasanku yang paling terbatas
di atas kehinaanku yang paling hina
di atas pengakuanku yang paling dalam
kuucap kalimat kepasrahan

Bismillahi Tawakkaltu Alallah
Wa Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billah


Jogjakarta, 12 Mei 2009
Di bawah teduh Gazebo Pertanian...

Minggu, 15 Februari 2009

Catatan Dasawarsa-ku

Jika Tuhan memberiku kesempatan,

Ingin rasanya bercengkrama dengan waktu

Sekedar bertanya, ingatkah ia dengan kisahku

Dasawarsa silam yang penuh roman

Mengais aroma cinta yang tak jua padam

Harap dalam gelap

Rindu dalam senyap

Antara ada dan tiada

Kisah dua rana bermula


Jika sang waktu ku tanya,

ia pasti tak berubah

Detik, menit, dan jamnya tetap sama

Aku mencoba mengangguk, meski batinku berteriak ‘Berhentilah berputar’ aku masih ingin di sini

Aku terus saja meneriakkan kalimat batinku, hingga tanpa kusadari waktuku benar-benar pergi


Aku belajar bercengkrama dengan waktu yang lain

Ingin kucatat hariku dengan tinta yang sama,

Tapi sayang…

Penaku patah, lalu hilang entah kemana

Aku hanya sanggup melukis kisah itu dalam benakku,

Hingga kelak akan kuukir dalam kertas tulisku saat aku punya pena baru


Sang waktu terus saja mengantarku

Membisikkan kisah-kisah itu agar kuingat

Untuk dikenang

Jadi peringatan

Jadi bentuk syukur

Jadi penanda kebeningan sukma yang kuabaikan…


Dasawarsaku mencatat…

Adamu akan abadi sebagai kekasih, namun jalannya aku tak mengerti

Adamu menyanjung hati, menyejuk hari, membias kasih, namun ku tak bisa melepas yang abadi

Adamu mengajariku mengerti pilihan, pengorbanan, penantian, berbesar hati, tapi lagi-lagi aku tak bisa mengiring langkahmu lebih jauh lagi

Adamu membuatku makin kuat memapah ego-ku, menatap mata elangmu dan mengajakmu pada debat yang akhirnya sependapat. ‘Aku tak ingin bertengkar denganmu’ begitu kalimat peluruh, yang sama sekali tak bisa meluruhkanku.

Entah ada berapa kamu-kamu lagi yang tercatat dalam dasawarsaku, tapi semuanya tetap sama tak ada yang bisa membuatku bergeming. Bahkan untuk sekedar mencoba berbagi senyum, yah…kecuali sedikit

Sampai suatu ketika, dasawarsaku berhenti mencatat!


Mungkin saat itu aku terdampar,

Atau sekedar ingin jalan-jalan

Menikmati hembusan angin lain yang ternyata ‘SAMA’

Pada bilangan itu aku belajar tersenyum,

benakku berujar ‘Horeee…aku punya pena lagi, aku bisa menulis lagi’

Girang seluruh hari kulewati

Berharap akan kucatat dasawarsaku dengan tinta yang baru

Tapi…Sorakanku tiba-tiba terhenti

Aku terdiam mematung saat kudapati pena patahku tergeletak lesu di meja kerjaku, hampa…

Kupandangi lekat pena itu, kuperiksa setiap sisinya,

Tanpa berani menyentuhnya

Karena digenggamanku ada pena baru yang kudapat dari dasawarsaku


Ingin rasanya marah pada pena tuaku

Siapa yang telah membawamu pergi?

Hingga aku tak bisa menulis lagi

Hingga catatan dasawarsaku tak bisa kusambung lagi

Dan hari ini, saat aku ingin menulis dengan pena baruku,

Wujudmu hadir tanpa pernah permisi


Yah…memang hanya sebatang pena

Tapi andai ia punya rasa

Ia pun ingin merasakan waktu

Kupandangi sekali lagi pena tuaku

Kali ini kusandingkan ia dengan penaku yang baru


Tentu yang tua sudah lusuh

Aku hapal benar warna tajam tintanya saat digoreskan

Aku paham betul saat lelahnya dan saat indahnya tatkala ia mencatat dasawarsaku

Kualihkan pandangan ke pena baruku, cantik, aku tersenyum memandanginya

Ada rasa puas saat aku bisa memilikinya

Pena pemberian, entah dari dasawarsa yang mana


Sang waktu tak pernah membiarkanku jadi manusia rakus

Dasawarsaku hanya butuh satu pena

Aku mulai bingung tak tau harus mengambil yang mana

Nafsuku meminta yang baru

Karena pena tuaku telah patah

Layak diganti dengan yang baru


Tapi hatiku tak bisa dusta

Betapa dasawarsaku hanya diisi oleh catatan dari tinta tajam pena tuaku, tak ada yang lain


Ku biarkan sang waktu berlalu

Ia yang kuberi kehormatan untuk memilihkanku

Sementara waktu, kubiarkan kedua pena itu menghuni meja kerjaku,

Tanpa ada yang kusentuh


Hingga suatu hari…

Sang waktu membawakanku secarik kertas putih…

Aku tergerak untuk mengisi kertas itu dengan tulisan dari pena-penaku

Toh hanya pena,

Aku bisa memakainya bergantian

Dan…aku hanya mencoba

Sampai salah satu dari penaku digilas oleh waktu


Pertama, kucoba dulu pena tua-ku

Yaaah seperti biasa,,,

Ia bisa menulis sesuai instruksi jari-jariku

Tintanya tajam, hurufnya jelas, pesannya tegas

Aku senang melihatnya


Kedua, kucoba memakai pena baruku

Satu dua huruf kutulis

Dua tiga kali kuulangi

Namun tak ada tinta yang bisa kulihat

Tak ada tulisan di atas kertas putihku

Sedih rasanya jiwa ini

Menatap rupa tak dapat pengerti


Dalam lesu-ku, sesosok tubuh datang menghampiri

Membawa kertas legam tak berisi

Tanpa berucap kata, diambilnya pena itu dari tanganku

Lalu…ditulisnya beberapa patah kata pada kertas hitam itu

Ternyata…jelas! Bisa terbaca dan aku mengerti

Orang itu memandangiku dengan tetap menggenggam pena baruku

Seolah berharap aku berkenan memberikan untuknya


Aku hanya tersenyum, tak ada yang kuucapkan

Aku kemudian berlalu dari hadapannya sambil membawa kertas putih dan pena tuaku

Kini di meja kerjaku hanya ada tumpukan kertas putih bersama sebatang pena tua yang telah kusambung patahannya

Hanya fisiknya yang cacat, tintanya masih sama seperti yang dulu

Sama dengan catatan dasawarsaku


Aku berterima kasih pada Sang Pemilik kehidupan

Yang telah membuat sang waktu memilihkanku

Sesuatu yang kubutuhkan,

Mengisi catatan dasawarsaku

Tak pernah usai

Menanti dan menemani semerbak keabadian kasih…


Mojopuro Wetan, 5 Februari 2009, 18.02 WIB

Untuk setiap Februari yang kulewati…

Aku Tidak Tahu


Mungkin hatiku sudah terlalu sakit

Mungkin lukaku sudah terlampau dalam

Hatiku jadi begitu lumpuh untuk merasakan simponimu

Aku tidak tahu berapa jauh lagi langkahku

Aku tidak tahu berapa banyak air mataku yang harus jatuh

Aku tidak tahu berapa banyak kebaikan yang sudah kau buat untukku

Untuk sekedar menghentikan raguku

Jangankan kamu, aku saja tidak tahu

Bukannya maaf itu tidak berguna

Mungkin hatiku harus diganti dengan yang baru

Kasih Tuhan-ku terlalu agung untuk kulewatkan dengan hati yang rapuh

Rapuh oleh guyuran air mata duka yang tiada putusnya

Duka usang yang tidak mungkin berubah

Meski habis air mataku menyayangkannya

Mungkin aku butuh waktu

Untuk memahami gelombang jiwaku sendiri

Asa ini terlalu berat untuk kutanggung sendiri

Tapi siapa yang bisa membantuku?

Jika yang kusesali hanya lembaran-lembaran usang

Tak bisa berubah, bahkan membatu menjadi sejarah

Jumat, 23 Januari 2009

Tersenyumlah...

Pernahkah ada duka dalam seulas senyum???

Cukuplah pemiliknya yang tahu

Pernahkah ada perih dalam sesungging senyum???

Biarlah pemiliknya yang sadari

Tak perlu risaukan makna senyum itu…

Yang pasti senyum tetap menjadi siluet untuk menyambut siapapun, kapanpun, dan dimanapun

Indah bukan???

Jika aku menatapmu dengan seulas senyum?

Sungguh… seulas senyum mampu mendinginkan amarah apapun bentuknya

Bak panas menyengat diguyur hujan sesaat

Sungguh… sesungging senyum mampu melebur lelah, betapapun penatnya

Seperti diriku yang saat ini tersenyum untukmu

Bahkan senantiasa sepanjang hidupku… aku akan selalu tersenyum untukmu

Untuk persahabatan, persaudaraan dan kasih yang tiada bertepi…

Jogjakarta, 14 Januari 2009

Kamis, 25 Desember 2008

Doaku Terjawab Sudah...

Sebuah kisah tentang pendoa yang berdoa

Ketika kumohon kepada Allah kekuatan,
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.
Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan,
Allah memberiku masalah untuk dipecahkan.
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan,
Allah memberiku akal untuk berpikir.
Ketika kumohon kepada Allah keberanian,
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi.
Ketika kumohon kepada Allah sebuah cinta,
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong.
Ketika kumohon kepada Allah bantuan,
Allah memberiku kesempitan.
Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta,
Tapi aku menerima segala yang kubutuhkan
Doaku terjawab sudah...

(Dikutip dari buku 'Never Give Up, Keep Fight!' Multitama Communication)

Salam hangat buat adik-adikku di Asrama Muslimah...
Jika engkau menanam kepercayaan atas jiwa manusia,
Maka bersiaplah untuk menuai kecewa.
Jika engkau meletak benih percaya pada Sang Maha,
Maka selamaya hidupmu akan bahagia.
Dan tahukah kamu dinda, butuh waktu bertahun-tahun untuk menguntai kalimat-kalimat itu di atas jiwa yang sungguh-sungguh dalam memahaminya, bukan sekedar pemanis lisan ataupun penawar gundah... Suatu saat nanti kalian akan mengerti, seiring mengeringnya tetesan air mata kalian di ujung jilbabku...

Buat saudaraku yang stag di 25 Desember 2007,
Cukuplah Allah yang menjadi penolong bagiku...

Kamis, 20 November 2008

Luka Tak Berobat

Andai saja ada yang tau betapa sakitnya aku melewati semua ini…

mungkin tak ada lagi yang tega melukaiku

sedetik pun

Telah lama semua itu berlalu, tapi bekasnya tetap meninggalkan luka

Luka yang meradang dan kian meradang

Perih rasanya jiwa ini menanggung luka ini sendiri…

Luka yang ditoreh tegas oleh orang-orang yang seharusnya melindungi

Perih… karena luka itu ada di atas luka yang lain,

luka yang sama-sama tak terobati

Indah… aku melihat senyum kalian begitu indah

Tulus… melebihi ketulusan seorang kekasih sejati

Tapi sayang, ternyata semua itu hanya bayangan

Semu, seperti sinar pualam rembulan. Segera hilang, jika bersua fajar

Aku tidak pernah tahu, kalau aku pun pernah tersenyum manis di atas luka orang lain

Luka yang akhirnya melukaiku tanpa pernah aku sempat berkata sesuatu…

Jogjakarta, 3 November 2008

Rabu, 23 Juli 2008

Jawabku Atas Pintamu

Jangan kau terbangkan mimpiku pada langit yang salah

Diantar badai, digulung ombak, ditemani bisu bahasamu

Tak kunistakan harapmu

Tuk jadikanku seorang seperti yang kau mau

Sungguh . . .

Berat kutanggung beban ini

Seberat aku menatap wajahmu

Aku hanya heran pada jiwaku

Mengapa jika aku enggan

Tak ku katakan saja tidak padamu

Aku tetap saja membiarkanmu berharap

Berharap bersama berlalunya hariku

Semoga cita kita sama

Meski di bumi yang lain, dengan warna yang lain


Butta Toa, 18 Juli 2008, 06:42, dalam harap ku menjawab . . .

Dialihbahasakan dari jiwa sang MenRisTek The Cabinet 45

Spesial buat komunitas Fermentasi ‘01

Kutunggu kesahmu di antara penatku

Kutunggu debatmu di tengah diamku

Kutunggu hadirmu di akhir egoku


Selasa, 24 Juni 2008

Pelangi

Tahun-tahun yang lalu sinar mentari masih hangat

Belum terik seperti sekarang

Alam atau manusiakah yang berkhianat?

Pastinya manusia

Tahun-tahun yang lalu purnama masih pualam

Tidak padam oleh lampu temaram

Alam atau manusiakah yang berkhianat?

Pastinya manusia

Tahun-tahun yang lalu hutan-hutan masih hijau

Belum gersang dan habis ditebang

Alam atau manusiakah yang berkhianat?

Pastinya manusia

Tahun-tahun yang lalu air cukuplah jinak

Tak pernah menjadi bah walau sejenak

Alam atau manusiakah yang berkhianat?

Pastinya manusia

Tahun-tahun yang lalu lautan sangatlah kaya

Tapi sekarang, terumbu pun tak lagi ada

Alam atau manusiakah yang berkhianat?

Pastinya manusia

Tahun-tahun yang lalu kita masih tersenyum lepas

Tak ada yang mematung dalam bingung

Aku atau kamukah yang berkhianat?

Entahlah... aku pun tak tau

Karena ternyata kita sama-sama manusia

Yang pasti...

Pelangi hari ini masih sama dengan tahun-tahun yang lalu

Indah, penuh warna, memesona

Tak pernah berubah, karena tak tersentuh tangan manusia

Jangan ambil keindahannya

Karena hanya dia

Yang masih menyisakan senyum untuk dunia

Keyboard, 15 Juni 2008

Diilhami dari Q.S. Ar Ruum (30) : 41

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)"

Kamis, 22 Mei 2008

Aku Memang Harus Memilikimu

Suatu ketika, dalam sebuah pengajian. Seorang Syaikh membagikan terjemahan Al Qur'an lux dari kerajaan Saudi Arabia. Hanya untuk murobbiyah[1], persediaan terbatas!!! Begitu kata panitia… karena Suci juga murobbiyah, maka ia juga dapat jatah, "Alhamdulillah…" sambutnya

Sejenak Suci berpikir, "terjemahan Al Qur'an, wah…di rumah kan ada, banyak malah, lebih banyak dari jumlah orang di rumah" ia pun urung untuk ikutan ambil jatah, "biar buat yang lain aja, kasian kalo ada yang tidak kebagian" ia pun berlalu dari pikirannya sendiri

Majelis dimulai, seorang temannya yang baru saja datang dari antrean ngambil jatah, duduk di sampingnya.

"Ngga ngambil Ci?"

Suci menggeleng

"Kenapa?"

"Udah punya Mbak" jawab Suci sekenanya

"Apa-apa tuh dilihat dulu Neng, jangan langsung ditolak, bagus lho, sampulnya hijau" ujarnya mengiming-iming Suci.

Suci hanya tersenyum sambil menatap terjemahan milik temannya. Ada sedikit rasa membenarkan dalam hatinya, namun segera ia tepis, ia ingin mensucikan niatnya, sesuci namanya.

"Emang lamaran, dilihat dulu baru ditolak! di mana-mana terjemahan ya sama, mau hijau kek, merah kek, kan sampulnya aja yang beda, isinya juga sama, Qur'an." lirih Suci, mencari perlindungan atas sikapnya.

Mendengar alasan Suci, temannya hanya bisa diam, sambil mengangkat bahu.

Suci pun kembali tenggelam dalam samudera ilmu Sang Syaikh, setelah diinterupsi temannya tadi…

Majelis usai, dan Suci pun melupakan terjemahan Al Qur'an bersampul hijau itu.

Beberapa pekan berselang, Suci kembali menghadiri sebuah majelis, tapi kali ini beda. Pematerinya bukan Syaikh. Majelis ini adalah penataran khusus, semacam pembekalan buat murobbiyah, ada tips dan trik membawakan materi, praktek langsung berceramah, dan lain-lain yang merangsang adrenalin. Ia pun mengikutinya dengan seksama, biar tidak salah konsep, "bahaya" ini kan mau disampaikan sama orang lain, kalau salah bisa kacau, tanggung jawab dunia akhirat…

Ada yang menarik hati Suci di majelis ini. Di akhir acara, panitia mengadakan evaluasi. Semua peserta wajib ikut, tak terkecuali dirinya. Peserta diminta menjawab sejumlah pertanyaan dan akan dinilai. Tiga peserta dengan jawaban terbaik, akan diberi kenang-kenangan oleh panitia.

Umumnya peserta sangat antusias mengikuti evaluasi. Mereka ingin mengetahui sampai di mana kemampuannya menelaah materi, langsung di evaluasi pada hari yang sama, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Namun tak sedikit pula di antara mereka yang asal-asalan saja, yang penting ikut. Suci merasa pertanyaan yang diberikan panitia cukup mudah, tetapi ia tetap saja was-was, khawatir kalau sampai jawabannya salah. Maklumlah, ia memang seorang yang selalu ambisius dengan ilmu, apalagi yang berbau kompetisi.

"Pengumuman" suara panitia mengheningkan majelis yang memang sudah gaduh...

Entah kenapa jantung Suci serasa berdegup lebih kencang, jiwa ambisiusnya tak mampu ia redam, meski ia sadar, peserta di sini ada ratusan orang, dan tentu mereka bukan orang sembarangan.

"Juara III, Ukhti Syiima Amaliah

"Juara II, Ukhti Aryna Astuti

"dan... yang menjadi peserta terbaik kita hari ini adalah... Ukhti Suci Fitrayanti..."

Serta merta seisi ruangan kembali gaduh, para peserta melantunkan kalimat takbir, atas apa yang baru saja mereka dengar.

Suci masih tertegun tidak percaya. "Wah, tak disangka ternyata aku jadi juara, winner lagi. Subhanallah, betapa senangnya" batinnya bergumam sendiri. "Jadi juara dikampus mah biasa…karena memang tiap hari itu-itu juga yang dipelajari. Tapi kalo ilmu agama, Masya Allah… sungguh sebuah anugerah, menjadi pemenang evaluasi yang mengalahkan ratusan peserta dalam majelis ini." Ia tak henti-hentinya memuji Kebesaran Allah, karena merasa ketiban Rahmat dan Barakah Ilmu.

"Bingkisannya gede banget" sambutnya ketika panitia mulai membagi-bagikan hadiah. Maklumlah, biasanya acara seperti ini, pemenang hanya dapat buku-buku saku. Meski begitu, isinya juga menarik, buah tangan penulis-penulis ternama.

Ketika hadiah itu telah berada di tangannya, rasanya ia sudah bisa nebak apa isinya. "Sepertinya terjemahan Al Qur'an deh…" ujarnya senang. Karena penasaran, ia pun segera membuka bingkisan itu. Dan… benaaar!!! Ternyata isinya terjemahan Al Qur'an. Yang membuat Suci tertegun cukup lama, karena terjemahan itu bersampul hijau, terjemahan yang sama dengan yang dibagikan Syaikh beberapa waktu lalu.

Subhanallah…tak terasa air matanya mengalir.

"Rabb, sungguh… apa yang kau tetapkan jadi milikku tak akan pernah jadi milik orang lain. Aku semakin yakin dengan kebesaran-Mu, aku tak perlu gusar dengan rezki-Mu, karena jika sesuatu itu hadir di bumi untukku, maka aku tidak akan mati sebelum memilikinya." Gumamnya berurai airmata.

Hari ini Suci pulang dengan membawa banyak hadiah. Hadiah benda, berupa terjemahan Al Qur'an. Juga hadiah ilmu, berupa kesadaran utuh, contoh nyata tentang bagian rezki manusia di dunia. Suci mendekap terjemahan Al Qur'an itu, "aku memang harus memilikimu…"

Makassar, 17 Mei 2008

Alya Khairunnisa

Episode: Syukur

Sepenggal Kisah Klasik


[1] Pengisi materi pada kelompok kajian islam